SELEMBAR PAGI DI KEBUN AYAH


Daun Ketela:
tujuh jemari daun ketela menanti telur telur embun. langit lapang terbuka, disaksikannya selendang putih turun ketika kumandang subuh mengalun
disaksikannya bayi bayi rumput yang haus. disapanya prajurit semut berangkat:
mendaki roti basi melewati lembab daun, meniti remah remah. disaksikannya dosa membara terhisap langit pagi.
wahai daun dengan tubuh berundak, tangkai tujuh helai jemari daun tengadah
: cahaya mulai bekerja

Kolam Ikan:
dalam bening tubuhku semalam bidadari berkaca. menitip bisikan pada teratai dan bunga air. seperti ada yang bergerak dari jantungku yangg dihuni sepuluh koi dua katak.daun ketela turun jadi perahu membagi dingin embun, mengukur kedalaman lubuk tubuhku yang menghijau

Pohon Mangga:
maafkanlah angin bila kanak-kanak dalam tubuhku belum memulai pertumbuhn. masih sibuk kumengukur berapa perjalanan kepala menuju bulan. kudayung tubuh kutimang benih hingga pagi, namun usiaku terus bergugurn di perkarangan itu. usia daun dan ranting kering yang mengaduh ketika waktu tertabuh

Bunga Melati:
telah kutelusuri wangi pada waktu yang kudus bahkan wangi tubuhku begitu kau kenal untuk menuntun jalan pulang
udara membuat aku menari bersama aroma dan mencari rupa pada mata kolam yang menggigil.
pulanglah dengan wangi tubuhku sebagai tanda pengenal akhir perjalananmu yang tak akan pernah kekal

Semut:
waktu adalah jantung kami yang terus mencari, melewati segala jalan dan ajal sepanjang tubuh belum mengendus aroma ajal
di tubuh pagi, maka terangi hati kami hingga hidup tak lagi menyisakan jeda dan kekosongan

Capung:
telah lama kami menjahit sinar. pada empat sayap bening yang lurus. maka doa adalah mekar bunga dan buah di kebun. menari bersama musim bunga. dan mata waspada: pemburu yang menata mantra pada jaring

Tanah:
mereka gejolak yang tumbuh di atas tubuhku yang tak pernah berangsur ungu. pada udara kupagut ciuman bumi. hingga daun, batang, bunga,kolam menulis ajal dalam gembur tubuh. di perutku kelak kau temukan ayah ibumu tak lupa nisan di atas kepalaku atas nama: kamu!

Kemiling, Maret 2012

DI SINI TAK MENJUAL PINOKIO


Di sini tak menjual pinokio, sebab gupeto telah mati. Dia tak lagi bermimpi batang kayu menjadi sebuah boneka kayu bernyawa berhidung panjang; yang hatinya peka karena cinta, yang bisa menangis ketika hati menjadi biru. Gupeto telah lama menanggalkan pahat dan palu karena gupeto-gupeto baru bermunculan. Tapi menciptakan pinokio baru terlalu beresiko, apalagi setelah waktu mengelupas dan berganti, peri biru tak pernah datang lagi. Dia menjelma dewi keberuntungan saat barang-barang itu bisa terjual di tengah persaingan global.

Gelondong kayu pilihan terus menangis selama perjalanan. Rindu pada pahit getah, lembab, pada pasak pasak batang daun, lumut, sinar matahari, juga kumbang dan tupai. Nyanyian gergaji bagai tembang di tapal usia.

Rumah tua membuat tubuhnya terbagi-bagi. Ketika bajunya yang berlumut terbuka dan koyak akan gergaji: tubuhnya menjadi putih masih menyisakan bau getah. Dan gelondong kayu menuju rumah tua itu. Rumh tua yg menyimpan bau lem, dengus grgaji, perkakas, bau cat juga pekerja-pekerjanya yang tak pernah menggerutu.

Gupeto tak pernah datang ke Belanda negeri kibas kincir dengan bau tulip bermekaran.

Aku akan bercerita sedikit tentang klompen yang dibuat dari batang kayu poplar. Sepatu yang akan bernyanyi riang di atas ubin dengan suaranya yang tuk tuk tuk. Pekerja-pekerja dengan nafas berbau keju dan perempuan-perempuannya berparfum bunga tulip. Di sebuah rumah di luar Amsterdam dengan menara kincir yang digunakan untuk tenaga listrik, yang di masa lalu berfungsi untuk menaiki air guna mengaliri sawah-sawah, pekerja membawa kayu poplar untuk dipahat dengan pisau pemotong kayu.

Tangan terampil memahat, tangan terampil menatah: gelondongan dibentuk, lalu lubang digali dari kayu yang berbentuk, mencungkil bagian tengah membentuk terowongan tempat sepasang kaki kelak berteduh.

Sepatu kayu yang telah berbentuk menanti sentuhan seni; warna putih dan kecoklatan dilukis dengan warna merah merekah, dengan aksen bunga atau kincir, atau warna ungu yang muram dan manis. Tangan-tangan seni terayun, tangan-tangan melukis. Aroma cat meruap.

Lalu datanglah ke negeri dengan tanah rendah dan rumah-rumah mungil yang tersusun. Sepatu kayu klompen akan mendinginkan sepasang kaki di musim panas, dan menghangatkan ketika musim dingin. Bobot yang ringan lebih nyaman digunakan bekerja di kebun. Meski itu cerita nostalgia tempo dulu, setidaknya kau bisa memilikinya sebagai souvenir dari negeri kincir.

Gupeto tak lagi membuat Pinokio, gupeto-gupeto yang datang membuat sepatu kayu.

Lagi-lagi waktu yang merubah proses kerja. Toko-toko sepatu seakan bermunculan dari dasar bumi, berbaris di sepanjang trotoar di setiap negeri karena sepatu bagian dari gaya hidup.

Rak-rak sepatu dengan cahaya boklam bersinar. Beragam model dan ukuran. Di mana kutemukan pembuat sepatu dalam rangkaian proses kerja? Toko tak menjual atraksi pasukan pembuat sepatu.

Desainer akan mendiagnosis selera anda dalam kertas berbentuk sketsa. Garis halus tergambar dengan aksen pesanan yang bisa diperbincangkan sembari menyeruput kopi. Kakimu akan diukur dengan penjabaran lebar dan panjang kaki juga lingkar tungkai.

Tangan seni akan mendiagnosa selera lalu akan menggambar pola setelah kau meminta ukuran tinggi hak sepatu. Pada lembaran kulit suede pola dirancang, digunting lalu kemudian pekerja di lain ruang membuat sulas atau kayu cetakan kaki menggunakan gerindra. Setelah sol terpasang dan dipres sepatu kulit akan dimasukan ke dalam oven agar sepatu menjadi kuat dan tidak berubah bentuk dan lem bisa terserap dengan bagus.

Tangan-tangan seni akan bekerja sesuai pesanan dan keinginan: sepatu bertumit, kets, bot, sepatu olahraga,sepatu berbulu, bahkan sepatu kaca bagi putri raja.

Tangan-tangan seni di sudut toko sepatu itu mulai bekerja: melukis sepatu kanvas putih dalam rangkaian warna cat aklirik, kemudian sketsa dibuat: bunga-bunga, benda-benda, lambang cinta, pemandangan, abstrak warna,boneka. Setelah cat dicampur dalam pallet mengikuti garis-garis sketsa.

Sim Salabim abrakadabra...

Kini tak ada yang menjual pinokio sebab Gupeto telah mati dalam cerita. Gupeto-gupeto bermunculan bukan sebagai pemahat boneka kayu, beralih pada pembuat sepatu kayu dan suatu saat digantikan dalam rangkaian proses kerja mekanik sebuah mesin. Tak ada lagi peri biru. Kini ia menjelma keberuntungan dari sepasang sepatu menemukan tuannya yang dalam rak terus bergumam:

Bawalah kami pulang. Siapa tahu sepasang kakimu milik peri biru atau kekasihnya yang lama hilang...



Kemiling, 20 Februari 2012
Pada suatu ketika di toko sepatu



SENJA DALAM LOYANG


(A)
Ketika tiga loyang tembaga berbentuk bundar itu mengepulkan uap panas, adonan putih yang lengket kental dalam wadah plastik yang ditakar dalam cangkir dituang dalam ceruk loyang. Mentega telah membuat permukaan loyang licin berkilat lewat sapuan kuas, agar uap panas tak membuat adonan menjadi lengket. Adonan menutup rata permukaan dalam gerak tangan melingkar mengikuti bentuk loyang, diiringi asap tipis.
Senyawa yang tersusun dari tepung terigu, margarin, garam, telur ayam dan air. Bercengkrama dalam wadah dalam pergumulan yang lengket dan liat. Lihatlah, sembari matamu menangkap adonan itu mengering adonan bagian tengah berdegup bagai jantung. Sesekali panas diatur dalam temperatur yang pas pada kompor agar api tak lekas menyulap adonan menjadi benua afrika dengan bau sengak yang tajam dan pahit.

Ketika pinggir adonan beralih warna menjadi coklat muda yang garing, bagian tengah tak lagi rancak berdegup akan tetapi lembab dan mengeras seperti permadani. Tanganmu menjumput butir-butir gula dan menaburkannya seumpama menata hujan di atas adonan. Udara berbau manis.

Lalu adonan bulat yang mengering gurih diangkat dari loyang, berpindah ke atas meja marmer. Liukan susu kental manis melukis garis dari celah sempit kaleng bundar. Taburan kacang tanah bagai kerikil,taburan mesis, gumpalan selai strawbery, parutan keju yang lurus panjang atau ketan berwarna dengan rasa masam yang manis basah karena masih menyimpan sedikit kadar air.

Tajam pisau membelah adonan bundar menjadi dua bagian yang rekah dalam garis vertikal, dilipat menjadi satu tumpukan. Dan kau menambah kuasan mentega cair agar adonan mengkilat dan menggiurkan. Asap hangat membawa aromanya ke udara.


(B)
Mulut teko bersuit panjang, mendengus dengan asap-asap yang keluar bersusulan. Tunggu sebentar, cangkir yang berbaris dalam rak masih mengeringkan badan. Satu sendok gula mungkin cukup agar kamu tak diserang diabetes. Teko menumpahkan air yang bergolak ke dalam cangkir hingga leher. Air mendidih bisa melenakan pertemuan menyatu dalam pusaran sendok yang membuat rasa manis menempel pada air. Lalu kantung tembus pandang dengan remah-remah daun teh kering dalam balutan berendam hingga menyebarkan warna putih menjadi merah tua atau kecokelatan. Seperti warna kayu yang meranggas.
Secangkir teh untukmu, aroma yang merindukan tegukan bibirmu.


(C)
Aku tak punya mesin espreso. Bubuk hitam dari stoples bening setengah sendok kutabur dalam cangkir sementara butiran gula membuatnya menjadi manis dan menyatu dalam air tercurah yang bergolak berasap. Bubuk yang menyimpan riwayat panjang; biji-biji mungil yang masak kemerahan disangrai dan digiling hingga menjadi serbuk halus hitam pahit yang khas. Rasa pahit bercumbu dalam lidah, rasa pahit yang berolah dalam rasa.
Secangkir kopi untukku di senja yang memanggil namamu dalam bayang bangau yang pulang.


(D)
Sejarah penciptaan menulis perempuan terbuat dari tulang rusuk lelaki pertama. Kun fayakun mentasbihkan yang bermula tiada lalu menjelma mahluk jelita sebagai pendamping. Kemudian rahasia-rahasia berbalut: di mana hati dilabuhkan, dua jiwa ditautkan, di mana kelak dimatikan. Dan kita bagian panjang dalam sejarah pertemuan lelaki dan perempuan pertama.dalam silsilah waktu yang tak panjang dari sejarah pertemuan lelaki da perempuan pertama.
Menjelma kini, engkau yang masih belum bersua, aku yang masih gagap mengenali tanda-tanda berkabut. Kita termaktub dalam rahasia kincir takdir; di mana bertemu, kapan bersatu atau mungkin mengenal tanpa persatuan dua jiwa.

Bila saat itu tiba, mari duduk bersamaku…



(A, B, C, D)

Senja seakan mengapung di langit barat kota kita; burung yang kembali pulang, ujung tiang kapal datang dan pergi. Tirai malam sebentar lagi diturunkan bersama azan yang berangkat. Senja dalam loyang kita bertemu di meja perjamuan: martabak manis yang hangat, secangkir teh celupmu, segelas kopiku. Mungkin bila takdir dituliskan kita menjadi satu adonan yang menghadapi manis dan pahit hidup dalam cangkir-cangkir yang sewaktu-waktu pecah.

Tapi senja penuh ilusi ini menanti kita tengadah menatap satu layar: rahasia pertemuan di jauhan.

"Hawa, mari bersulang!"


Kemiling, Februari 2012

SOLILOKUI LANGIT JANUARI


Tahun bertukar cincin. Lalu kini kau panggil aku sebagai januari. Tahun-tahun penuh geletup api telah patah, hanya kerdip yang sesekali lewat ingin berubah basah. Aku hanya mencoba mengasah kedua mataku agar lebih tanak setelah gemetar dalam hujan menjadi teman singgah, meletup kemudian di waktu yang terbelai. Dimensi tak akan punah dari sejarah cinta. Kita senantiasa bertarung dalam tarian ketidakmengertian cuaca dunia yang selalu berubah.

Kapan engkau berangkat? Melintasi tujuh lapis tangga dan tanda. Jadi elang atau merpati. Belum juga kau selesaikan kata pengantar untuk Tuhan di perjalanan yang akan datang. Sementara itu, stasiun kerap kali mengirim sinyal dalam getar, dalam gambar bergerak dan mikrofon yang berloncatan. Kau selalu berpikir bahwa arlojimu masih bayi dan lama akan dewasa untuk pecah dalam puing usia, dalam geletar ruang rasa.

Tubuhmu adalah penanggalan yang berlari, weker mungil yang menanti sepi sendiri

Apa artinya kecamuk, karena tak ada yang kekal dalam pertunjukan. Apa artinya kau kabarkan, desember telah menghabiskan cat air untuk melukis burung yang terbang. Juga suara terompet yang susut perlahan. Kita hanya menukar kenangan dan bayangan menua yang kita ganti saat malam pergantian. Kau paksa aku memakai sepatu yang terbuat dari waktu yang loncengnya akan sampai pada sebidang tanah berdebu.

Tubuhmu adalah cermin bundar memanggil timur dan barat, meramalkan gelap atau terang…

Langit semakin turun, sayap bidadari menyulam ilusi sebatang kara dalam lamun kolam kenangan. Basuh kembali mimpi-mimpi yang tergadai dan terbantai. Setelah malam hilang cahaya,sepi melangkah sendiri; mengeja mantra ratapan,tertulis dalam lembaran demi lembaran. Bayanganmu datang dan menanti beranting sepi di ujung mimpi yang berulangkali basi di keluasan langit januari.

Tubuhmu adalah rasi bintang; canopus, capella, vega dalam 12 bulan perawan: kupu-kupu atau kunang-kunang, kedatangan atau kepergian.



Januari 2012

FLP: PUZZLE SEBUAH MUSIM

Hampir tiga tahun bersama FLP, saya merasakan bahwa saya seperti melihat puzzle sebuah musim. Kombinasinya berganti-ganti. Meski begitu selalu ada aroma kerinduan yang tak terbantahkan hadir. Bila kombinasi puzzle ini tersusun dengan benar, saya melihat sebuah musim semi: menjanjikan aroma pertumbuhan yang segar, tempat segala daun, bunga yang kuncup menggeliat bangkit menyongsong matahari. Namun bila kombinasinya sedang bergeser salah, saya melihat aroma mendung: bunga-bunga sembunyi, dan kesepian.

Namun, musim tak selalu hadir secara konstan. Ia seperti langit yang terkelupas: sunyi, canda, tawa, harapan selalu hadir dan menggeliat karena semua bisa tumbuh dalam segala kondisi yang melingkupinya. Dan FLP, taman kunang-kunang tercinta sudah melewatinya dan akan terus melewati suasana alam yang mengikuti dalam setiap bagian perjalanannya.

Pada Minggu, 11 Desember 2011 dimana FLP Wilayah Lampung menginjak usia ke 11, saya melihat puzzle yang sempat mendung bulan-bulan belakangan, menemukan seminya. Senang rasanya melihat anggota-anggota baru beserta pengurus yang menghandle acara yang cukup meriah dengan kondisi yang mungkin sedang tidak kondusif. Syukur alhamdulillah, acara berjalan lancar. Malu rasanya saya tak bisa berbuat banyak dan tak bisa menyumbang apa-apa hanya tenaga sisa di saat acara berlangsung dan itu menjadikan sebuah beban yang mengarah pada satu tudingan: apakah saya masih pantas disebut sebagai anggota Forum Lingkar Pena?

Sebuah harapan yang ingin saya ungkapkan adalah kita perpanjang musim semi ini. Kita punya sumber daya manusia yang rasanya tak bisa diremehkan, kita punya link yang begitu kuat. Saya ingin Forum Lingkar Pena Wilayah Lampung tak hanya menemukan musim seminya saat menggelar sebuah event, setelah event berakhir surut kembali. Saya ingin teman-teman secara bersama-sama berkomitmen untuk menjaga kelangsungan dan eksistensi Forum Lingkar Pena secara mendasar: aktif menggelar kelas menulis secara berkala satu minggu sekali, penguatan karya berjamaah secara intens, dan terus melaksanakan agenda-agenda yang menambah keakraban satu sama lain. Jangan menambah murung dan jangan ditelantarkan begitu saja tanpa kejelasan. Satu hal yang penting: komitmen secara pribadi masing-masing anggota terhadap FLP.

Saya menyadari bahwa tak ada yang abadi dalam setiap pertemuan. Selalu ada masanya kita menghadapi dua simpang kehidupan: ditinggalkan atau meninggalkan. Selalu ada pergantian. Saya hanya ingin FLP bisa bermanfaat buat orang lain dan juga bermanfaat dalam segala upgrade anggota-anggotanya. Saya ingin FLP bangkit menyongsong semi dan anggota-anggotanya bisa bercahaya di belantara kepenulisan masa depan. Dan FLP Wilayah Lampung memiliki tantangan untuk itu.

Saya ingin Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Lampung bisa menjadi musim semi bagi dirinya sendiri, buat anggota-anggotanya dengan kesolidan yang terjaga, dengan intensitas pertemuan yang terjaga dan kualitas karya yang bisa berkepak-kepak menghiasi dunia.

Sambut musim semi itu FLP, jangan biarkan 11 tahun perjalanan hanya pengulangan-pengulangan musim yang meletihkan. Jadikan musim semi dengan kombinasinya yang indah dan menakjubkan dengan kunang-kunang berpendaran sebagai konsistensi jangka panjang yang terjaga; melihat daun, bunga, aroma yaitu karya menggeliat bangkit dan tentu musim semi selalu menawarkan harapan menjadi lebih baik yang selalu menanti.

Salam dari Kunang-kunang!

16 Desember 2011
Agus Kindi

nb: SEBUAH RENUNGAN KECIL MENYAMBUT MILAD FLP lAMPUNG

BERIBU GAUNG

beribu gaung. sisa mantra.bola kristal yang melukis sepi paling darah. sisa udara. gerimis pecah. terus mematuk jendela. gaung paling relung bersabda pada cinta: ada yang tersisa dari liur luka dan gemanya beribu melipat nama. hingga menyerpih pada suatu masa. di saat aku hilang arah.

merindu cuaca gema, suara yang terbang ke udara


Januari 2012

DALAM WARNA, RINDU YANG PECAH

Sebab kita tidak akan pernah senada meski tercipta dalam alun tunggal dan mengapung dalam semesta. Kita tak akan serupa dalam alun komponis dunia dan kenangan hanya hitam yang makin legam menuju ke barat. Senyuman hanya bias yang dpantulkan lewat cermin cembung cerita. Lagi-lagi masalah waktu yang telah berlari dan terus menjauh. Foto yang semakin menyisakan debu pada album retak kita bertanggal dan memilki masa yang kian menyusut dan kita akan memandanginya bila kelak tua sebelum tiada

Dalam warna yang coba kusetiakan biru, tak juga abadi. Tak akan bertemu bila rindu hanya satu arah. Tak akan pernah abadi bila dusta kau tikam kepercayaan untuk kesetiaan yang berayun dalam waktu dan penantian maya.

Sudahlah, waktu sudah makin ke barat. Kita umpamkan itu semata kisah lama, sahabat. Tak ada yang perlu digugat dan didebat, bila biru mencair dan menguap. Terbang dengan sayap yang kau pilih hisap segala senyap dan penantian yang lama terpendam jadi jantung, dalam warna yang kusimpan dalam warna abadi.

Dalam segala warna aku hanya mengikuti sabda. Rindu yang bergumpal sekian lama biar pecah bersama sepotong fragmen kita dalam keteduhan masa remaja yang menyusut. Rindu yang pecah ini kusyukuri bahwa tak ada yang abadi

Cinta dan kerinduan tumbuh dan meranggas lalu mati bersama duri.Ini semata masalah waktu yang menunggu.


14 Oktober 2011

MENANAM BENIH KATA...YUK, MARI...



JUDUL : MENANAM BENIH KATA
PENULIS : ARI PAHALA HUTABARAT
PENERBIT : DEWAN KESENIAN LAMPUNG
TEBAL : 284 HALAMAN



MENANAM BENIH KATA

Ini dia sebuah buku yang mendobrak segala kejemuan kita terhadap buku teori-teori pembuatan puisi yang selama ini beredar. Buku ini dibuat oleh penulisnya dengan gaya yang berbeda: mengajarakan teknik dan tips pembuatan puisi dasar yang baik tanpa perlu menjabarkan teori-teori kaku yang kelihatan bersahaja namun menimbulkan kengerian sendiri karena keribetannya itu.


Buku berjudul MENANAM BENIH KATA yang ditulis seorang penyair kenamaan Lampung sekaligus Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang sudah punya nama di kancah perpuisian Indonesia ini menerapkan pengalaman-pengalaman empiriknya yang asik. Ya, Ari Pahala Hutabarat merupakan guru bagi beberapa penyair Lampung yang sudah punya tempat di kancah perpuisian nasional, sebut mislnya Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, Fitri Yani, Agit dlsb.

Buku yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung ini memberi sebuah warna lain dari buku teori menulis (puisi khusunya) yang ada selama ini. Seperti yang tertulis di awal kata pengantarnya buku ini adalah sebuah bentuk provokasi penulisnya terutama buat para sahabat para siswa SMA, Mahasiswa dan para Guru Bahasa dan Sastra di Lampung. Ini dibuat sebagai bentuk keprihatinan penulis yang melihat bahwa ada yang salah dari pengajaran sastra yang berkembang selama ini yang membuat para siswa untuk takut menulis karena menitikberatkan pada teori bukan praktek.

Tahun 2008 FLP Lampung menghadirkan Ari Pahala Hutabarat sebagai pembicara dalam acara pelantikan anggota baru FLP Lampung dimana saya bertindak sebagai salah satu anggota yang dilantik. Ketika itu Pak Ari yang memberi materi puisi itu cukup mengagetkan saya dan beberapa teman. Bukan karena penampilannya yang easy going seperti anak muda dan gaya pakaiannya yang sederhana—bahkan untuk sampai ke Gedung Bahasa Provinsi Lampung yang menjorok masuk beliau naik angkot dan berjalan kaki dari jalan menuju gedung. Yang mengejutkan tak lain tak bukan adalah beliau tidak memberikan teori puisi. Semua yang hadir di ruangan itu--baik anggota baru bahkan panitianya (berusaha berkelit untuk ambil bagian namun ternyata dapat jatah :)) langsung diajarkan praktek menulis puisi. Caranya pun sedikit nyentrik tapi asik. Dalam waktu 20 menit kami disuruhnya menulis apa saja yang melintas tanpa berhenti di atas selembar kertas; mengabaikan tanda baca, susunan kata, diksi atau apa pun, pokoknya menulis saja terus jangan berhenti sebelum ada perintah. Kami semua menulis tanpa berhenti sementara beliau berkeliling sambil terus memompa terus menghitung dan mendobrak meja bila ada yang terlihat berhenti. Setelah itu kami disuruhnya memilih dan memenggal kata-kata yang sudah tertulis menjadi bait puisi.

Dan trik seperti yang saya alami tahun 2008 itu menjadi salah satu bagian dari bukunya ini.



TEORI BERGAYA NOVEL

Dalam menyampaikan tips, trik, pengertian dan diselingi kata-kata atau definisi penulisan dari penyair dunia dan Indonesia itu, Ari Pahala menyajikannya dalam bentuk novel dengan tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk mempermudah menyampaikan maksudnya. Ini dibuat seperti model MENGARANG ITU GAMPANGnya Arswendo Atmowiloto yang menghadirkan teori dalam tanya jawab tokoh imajiner, sementara dalam MENANAM BENIH KATA dibuat dalam bentuk percakapan tokoh-tokohnya.

Melalui buku ini, Ari Pahala mencoba untuk mengajak pembacanya untuk bergerak dan mulai menulis puisi tanpa rasa takut. Ari Pahala berhasil menerjemahkan pengertian atau istilah dalam teori-teori baku menulis puisi dengan bahasa yang lebih mudah dipahami dan dimengerti. Apalagi lewat metode percakapan tokoh-tokohnya sehingga pembacanya tidak merasa diberi teori padahal dari dialog-dialog, problem-problem tokohnya yang kesulitan membuat puisi—mewakili kita yang punya masalah yang serupa dalam hal menulis puisi--pertanyaan akan terjawab berikut diberi solusi. Dari mulai kesulitan awal untuk memulai menulis berlanjut dari step by step yang diberi judul jurus-jurus ala dunia persilatan, diselingi sedikit humor. Dari jurus dasar sampai pengertian yang masuk dalam tubuh puisi itu sendiri.Santai tapi memberikan sesuatu tanpa perlu mencerna terlalu jauh. Ini lebih konkret dan asik.

Adalah Budi bersama teman-temannya Robert, Bedul, Latif dan Wagino berguru pada Mbah Bob, guru yang nyentrik di Padepokan Beranda Bulan. Nyentrik karena selain easy going, nyeleneh, suka ngopi dan merokok, suka menghukum murid-muridnya dengan jurus kocak semisal setangkai bunga penggugur asmara, tapi di sisi lain Mbah Bob bisa serius dalam memberikan ilmu puisinya kepada murid-muridnya itu lewat analogi empirik.

JURUS PERTAMA: RILEKS!
Ya, itu jurus pertama dalam mengawali proses tulis menulis yang diberikan Mbah Bob kepada murid-murudnya. Sebagai mantera pertama berbunyi, “AKU MENULIS DENGAN MUDAH, RINGAN DAN MENYENANGKAN.” Yang harus diresapi agar tak ada ketakutan dalam mengawali menulis—menulis apa saja, bukan hanya puisi.

“Menulislah dengan rasa merdeka, baru kemudian kau akan menemukan maksud dari tulisanmu,” ini mantera berikutnya dimana prakteknya pernah saya alami seperti saat pelantikan anggota baru FLP Lampung 2008, yaitu menulis saja apa yang saat melintas tanpa berhenti.

Ari pahala membalikan anggapan yang selama ini beredar yang menyesatkan dan untuk mengawali proses menulis lebih ribet. Bila anggapan yang selama ini beredar mengatakan: Tentukan maksud dan kemudian menuangkannya ke dalam bahasa, Ari Pahala membalikannya menjadi MENULIS SAJA DULU DENGAN RASA MERDEKA, TUANGKAN SAJA DULU BEBASKAN DARI BELENGGU-BELENGGU MAKSUD YANG AKAN MENGEKANG KEBEBASAN...

“Kalau kau mendahulukan maksud di atas bahasa—maka pertumbuhan bahasamu akan terbatas, karena ia telah dipagari oleh maksud-maksud yang kau tanam sejak awal tadi. Tapi kalau kau berjalan bersama bahasa—maka pertumbuhan bahasamu pun akan leluasa dan kaya sampai suatu ketika bahasa itu akan merasa cukup dan mulai memunculkan maksud-maksud tulisanmu,” kata Mbah Bob

Berikut saya kutip beberapa tahapan yang mungkin bisa menggambarkan sedikit metode dalam buku ini, salah satu metode atau jurus yang dinamakan Mbah Bob sebagai RUMAH TANGGA KATA.

“Tulis kata-kata yang berhubungan dengan laut.” Perintah Mbah Bob kepada Budi dkk yang pada suatu hari diajaknya ke laut. Mereka diberi waktu untuk mencatat dan mencermati sekeliling mereka.

“...sekarang kau Robert, coba kau bacakan hasil pengamatanmu.” Perintah Mbah Bob santai.

Robert membacakan hasil pengamatannya tadi. “ Karang, ombk, buih, awan putih keringat nelayan, amis ikan, pelabuhan, semenanjung, buaya muara, akar bakau, debur ombak, koral, arang bakar ikan, ikan tongkol, ikan tuna, ikan hiu, ikan kerapi...’

“Cukup...cukup...coba kau baca hasil pengamatanmu Wagino.”

.............

“Jurus rumah tangga kata berfungsi untuk mendetailkan latar tempat, latar waktu atau suasana—jika kalian menghendaki latar waktu di dalam puisi kalian. Latar waktu akan jadi detail, kaya sekaligus terkontrol.” Kata Mbah Bob

*

Dalam jurus-jurus selanjutnya, Ari Pahala juga mengajak pembacanya memaknai bagaimana cara memaknai sebuah puisi dengan merujuk pada sebuah kalimat yang juga saya sepakati: “ Puisi yang baik bukanlah puisi yang mengajak pembacanya berpikir, namun puisi yang mau berbagi pengalaman dengan para pembacanya. Puisi itu tak segan memberi kesempatan kepada kita untuk: melihat bersama, mendengar bersama, mencium bersama, meraba bersama, merasakan bersama-sama, nerpikir bersama-sama.”

Namun sayangnya, buku yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian lampung (DKL) ini yang diniatkan penulisnya sebagai bentuk sumbangsih berbagi pengalaman-- dan tidak berorientasi pada hasil penjualan-- dalam pemasarannya terbatas. Saya tak tahu apa di luar kota buku ini tertera di rak toko buku. Meskipun buku ini sempat dijual di toko buku Gramedia saat awal-awal penerbitannya namun, sudah menghilang dari toko buku saat saya menyadari betpa bagusnya buku ini. Bila pun ingin membeli terpaksa harus menghubungi kenalan atau datang langsung ke Dewan Kesenian Lampung.

Wahai, kawan betapa bagusnya buku ini bagi kawan yang berniat serius dalam dunia penciptaan puisi. Setelah menamatkan buku ini seperti juga saya, pikiran bahwa menulis puisi itu sulit akan segera terabaikan. Dan satu hal yang mengkristal dari semuanya adalah PRAKTEK dengan menulis secara rileks dan merdeka.


Kemiling, 5 November 2011

CATATAN DI PENGHUJUNG JANUARI

Sunyi, ajari aku mengaji...

12 Januari 2012

DIA SAKSIKAN

dia saksikan debu mengelupas pada tiang. dan air menghapus jejak kanak-kanaknya pada tanah. daun yang berganti setiap pagi berjatuhan.dia saksikan daun yang meranggas berpisah pada tangkai, mengucap sebuah amanat.langit pun mengusap janggutnya dan mengangguk. dalam suasana yang biru, kadang mereka tersedu memahami...

11 Januari 2012

ARLOJI (CERPEN)


Sebelum kita benar-benar menjadi kabut dan menghilang di tikungan itu, salju turun bagai domba-domba kecil di langit Busan. Kau menangkap tanganku, aku menggeliat. Kau tersenyum, Gyu Ri. Tapi aku terkejut. Kita sama-sama terkejut. Mengapa tubuhku dan tubuhmu berdarah. Arloji di tanganku seakan membeku. Ke mana waktu menghilang?

*


Waktu seperti seekor burung. Terbang membawa kenangan dan suatu ketika di masa depan datang kembali. Menjulurkan kenangan yang masih tersimpan baik di bawah sayap-sayapnya. Enam tahun bukan waktu yang pendek. Telah banyak yang kita percakapkan di layar akhir-akhir ini, Gyu Ri. Pertemuan yang kembali tersambung dalam dunia maya. Jarak kita jauh. Aku tak tahu di mana kau persisnya. Karena sejak gerbang Sekolah Menengah ditutup kau terbang ke kota yang tidak kuketahui. Tentu saja setelah kita bukan lagi sepasang kekasih.

“Aku menjadi seekor burung, Jo Hyun. Seperti yang pernah kukatakan dulu. Kau masih ingat, aku selalu kagum melihat pesawat-pesawat yang berkitar di atas taman Incheon, yang letaknya dekat sekali dengan Bandara. Pesawat itu seakan bebas menyinggahi bandara-bandara di dunia.”

Itu yang kau tulis dalam chat pertama kita.

“Seorang Pramugari?”

“Bagaimana denganmu, Jo Hyun?”

“Tentu saja aku masih tetap berada di Seoul. Bekerja di sebuah studio sulih suara.”

“Aku kangen dengan suaramu Jo Hyun. Aku akan melewatkan malam tahun baru di Seoul. Kita bertemu…”

“Kau akan menemuiku seorang diri?”

“Tentu, banyak kenangan yang harus kembali kita hidupkan. Karena waktu tak akan terulang.”

“Tunanganmu?”

“Tenang saja. Dia bukan lelaki pencemburu. Lagipula pernikahan kami hanya tinggal menghitung bulan. Di saat mawar-mawar Februari bermekaran…”

“Seorang Pramugara?”

“Bukan, dia seorang Pilot.”

Aku ber o panjang. Kita bertemu sebagai seorang sahabat, ya sahabat.

*

Dan waktu begitu baik memahat perubahan. Gyu Ri , saat aku melihatmu berdiri di ujung tangga Youngdosan Park di dekat pohon ginko yang tak berdaun. Kau menggigil kedinginan. Tubuhmu jauh lebih kurus, dan rambutmu yang dulu panjang terurai berwarna coklat chesnut kini terpangkas pendek. Kau melihatku dan melambaikan tanganmu. Namun kusadari ada keceriaan yang hilang.

Desember telah membuat suhu terjun menjadi 9 derajat di bawah nol. Tapi Busan, kota pelabuhan yang letaknya di Selatan Seoul terasa lebih hangat dengan suhu minus 3-5 derajat celcius. Udara musim dingin telah membuat bukit, lembah, jalan dan pohon berubah warna sendu seperti warna perkabungan.

Kita sama-sama kaku memulai. Sementara di sekitar kita orang-orang hilir mudik. Bergerombol dan berpasangan. Atau jalan sendiri bergegas menahan dingin.

“Temani aku belanja di Nampo-dong dan Gwangbok, aku akan mentraktirmu bubur abalon dan sup ikan kesukannmu, Hyun…”

Tiba-tiba kau terdiam mengamatiku seperti mengamati sebuah boneka. Matamu mengerjap.

“Masih kau simpan arloji itu, Hyun?” tanyanya terkejut.

Tentu saja arloji pemberiannya waktu kami sepasang kekasih di Sekolah Menengah masih kusimpan dengan baik. Yang harganya hanya beberapa won. Detik dan menitnya seakan menghitung sebuah pertemuan yang akan datang. Dan aku menanti itu setelah aku tak juga mendapat kabar darimu sejak perpisahan itu. Dan itu terjadi saat ini. Kau di hadapanku kini.

“Ceritakan tentang keluargamu, Hyun? Aku kangen dengan sup rumput laut buatan Bibi…”

Aku hanya terdiam. Sulit untuk menghadirkan kembali nostalgia yang pernah ada. Dan aku tak berani menatap wajahnya. Sebelum pertemuan ini aku selalu merasa debaran yang datang tidak mestinya. Dan entah mimpi dua hari lalu membuatku teringat pada arloji yang masih kusimpan dalam brankas kenangan itu tiba-tiba mencuat. Sebuah fragmen mimpi di mana kami saling menatap dan gaung suara-suara yang misterus.

Apa yang harus aku ceritakan. “Tak ada yang terlalu istimewa, Gyu Ri. Ibuku sudah meninggal satu tahun lalu karena radang paru-paru. Dan bersama adikku Yi Soo, kami meneruskan usaha pembuatan roti peninggalan ayahku yang dikelola ibu sejak Ayah meninggal waktu itu. Dan aku hanya suara yang bisa kuandalkan untuk mencari tambahan uang. Sebagai narator tokoh-tokoh animasi atau serial pendek. Untuk urusan cinta tak ada yang istimewa.”

“Jangan bersedih Hyun. Aku tak tahu berita kematian Bibi. Banyak hal yang yang ingin kusesali selama rentang waktu di mana aku tak berada di Seoul.”

“Sudahlah Gyu Ri. Tak ada gunanya mengingat cerita yang hanya membuat aku dan kamu menangis. Kita bertemu untuk berbahagia, bukan? Ayolah kita jalan-jalan ….” Aku menarik tangannya dan kami berjalan beriringan menyusuri kawasan Nampo-dong dan Gwangbok.

Dan pertemuan kami harus berakhir setelah kami menyantap sup ikan di kedai tak jauh dari pasar ikan langganan aku dan Gyu Ri waktu itu. Aku menatapnya yang menghilang di ujung tikungan dan berdoa semua dia bahagia dengan pernikahannya di bulan mendatang. Meski dalam hatiku bergaung tapi melepaskanmu dalam diam dan demi kebahagiaan aku bahagia, Gyu Ri. Aku harap kau tahu itu.

*

Ada bagian yang tak hendak kuceritakan padamu Hyun. Dan aku tak pantas untuk menceritakannya kepadamu. Aku terlalu kotor dan bukan lagi Gyu Ri yang dulu kau kenal. Harus kuceritakan bahwa aku mendambakan menjadi seekor burung yag lepas. Belenggu ini terlalu sakit untuk kualami.

Setelah Sekolah Menengah usai aku mencoba untuk melanjutkan mimpiku: melanjutkan sekolah Pramugari. Namun Ibu dan ayahku sejak kepindahan kami ke Pyongyang, ibukota Korea Utara lebih gemar berjudi dan menghabiskan uang. Aku berhenti di tahun kedua. Karena ayahku meninggal meninggalkan banyak hutang, ibu memaksaku untuk bekerja di tempat seorang temannya berjudi.

Sejak saat itu aku hanya ingin melepas belenggu ini dan terbanga kea lam paling bebas di mana derita hidupku bias terbang mengudara. Aku ingin kembali ke Seoul dan memulai mimpi baru. Setiap ingat Busan aku selalu mengingat memori indah yang masih kupunya tertinggal di sana.

Semoga kau bahagia dengan gadis yang jauh lebih baik. Dan kau jangan marah bila sewaktu ketika kau memergokiku dan bertanya ke mana tunanganku yang seorang pilot itu. Itu sungguh tak ada. Itu hanya obsesi paling bual untuk gadis miskin sepertiku. Terima kasih Jo Hyun, aku harus kembali. Gamsahamnida.

*

Sebelum kita benar-benar menjadi kabut dan menghilang di tikungan itu, salju turun bagai domba-domba kecil di langit Busan. Kau menangkap tanganku, aku menggeliat. Kau tersenyum, Gyu Ri. Tapi aku terkejut. Kita sama-sama terkejut. Mengapa tubuhku dan tubuhmu berdarah. Arloji di tanganku seakan membeku. Ke mana waktu menghilang?

Aku terbangun dengan keringat bersimbah. Mimpi yang sama. Tapi bukankah salju akan turun di Busan pada bulan Februari?Apa yang sebetulnya terjadi. Masih dini hari. Aku menghubungi nomor Gyu Ri, aku mencoba mengecek namanya di ruang maya. Semuanya menghilang, terhapus tanpa jejak.

Apakah mimpi? Apakah waktu berhenti Gyu Ri?



11 Januari 2012

Cerpen di awal tahun ^^



PEMANGKAS RAMBUT


-1-

Mungkin pertemuan kita berakhir di tangan para pemangkas rambut. Gunting bersilangan, tajam silet bersahutan. Setelah beberapa bulan kau kutimang dalam rimbun pikiran di kepalaku. Pikiran yang tak lagi bisa bertelur. Pikiran seperti gelembung sabun yangterus membesar dan sewaktu pecah. Kau melihat aku di kolam cermin berjubah lilin. Sementara kamu bersama para sekutu mencium aroma pembantaian


-II-

Mungkin perpisahan, katamu. Untuk aku yang telah kau sayang, setelah kebal aroma sampo, urang aring, lidah buaya dan jeruk lemon. Membuatku menjadi licin dan bacin. Takdir lelaki tak menghendaki aku bercabang seperti perawan, hitam memanjang seperti selendang

Retakkan cermin pada dinding, retakkan kebersamaan yang hadir dan bergulir



-III-

Selamat datang kepala yang tandas dan bebas. Bagai tanah subur sawah, waktu akan membajak dan meremajai benih. Jangan bercabang lagi dan jangan ceritakan tentang dongeng-dongeng vertigo dan migrant dan labirin kebuntuan yang tak pernah berakhir. Patahkan saja segala kebuntuan yang sewaktu datang, sewaktu menerjang

Tumbuhlah bersama pergantian langit. Yang terang-hitam, hitam-terang. Biar kuuntai kau kelak panjang seperti selendang perawan warna perkabungan. Menjadi kuncir kuda dan kelabang. Menganugerahimu pita warna pelangi dan mengecat warna tembaga, warna darah

Tumbuhlah sebelum kau rasakan kehilangan dan rapuh dalam serat-serat putih susu
Retakkan cermin pada dinding, retakkan kebersamaan yang hadir dan bergulir


Flamingo Barber Shop, Desember 2011

RUANG TUNGGU


di setiap ruang tunggu, ingin kunyanyikan lagu keroncong
pada dinding: Gedung lantai tiga
kugentarkan retak pada kaca, jendela yang terus
melukis mata.entah salju datang darimana

menggeser letak geografis bumi.hingga udara
melambai sejuk pada darah.lampu cahaya bagai sinar
lampu operasi di atas kepala
sementara waktu jungkir balik di sela
lingkar jam tangan.mengintervensi penantian
yang luruh bagai kelopak bunga

30 NOVEMBER 2011

BELAKANG LAYAR


di ruang belakang, ruang sunyi. tak pernah tahu dari mana tumpukan bangkai kata-kata itu? Dikirim seseorang dalam jubah malam, dengan mata sejernih embun.di pojok kiri kususun lagi rusuk-rusuk nada dari seribu kenangan tak berjudul. Di belakang, ruang sunyiku di antara terapung bunga padma, kuhitung lagi gelembung-gelembung doa tanpa nama mengapung dalam hening subuh. Harus bagaimana lagi kupandang dunia dari lorong kecil rahasia, kepalsuan dan ketulusan yang menyimpan peledak di belakang mantera api

29 NOVEMBER 2011

MENGENANG HUJAN


Setelah hujan berlari, siapa yang kau kenang kelebat bayang?pada genangan di danau mata kita yang tak bicara, sepasang sepatu mungil, perahu kertas terbantai, daun-daun yang tak lagi punya bentuk. Bila pernah kau sebut peri air gantung diri di cabang2 pohon kenangan. Perahu yang mengutip bnyk ctatn wktu. lalu kita kau anggap apa?daun cokelat yang melankolis di tepi kolam mati?

27 NOVEMBER 2011

SEPOTONG PAGI YANG ENTAH


kita adalah tubuh-tubuh yang terbangun dari mimpi. pikiranmu adalah nisan tanpa melati yang mendeskripsikan sederet kartu nama dan buku telepon yang terbakar.

pikiranku menjahit layang~layang, kelana sepi yang masih punya bayangan
mengikat sepatu, menjemba waktu


November 2011

SURAT UNTUK HUJAN


Tersebab kemarau yang telah menyimpanmu sebagai rindu dendam, aku menulismu dari sebuah negeri tropis. Bunga-bunga berkabar padaku yang telah disabdakan sayap-sayap angin, mengetuk pintu rumahku dengan nafasnya yang dingin, bahwa bunga-bunga yang mengandung begitu kehausan akan rinai.

Ini suratku untukmu yang terus mengucur bagai limpahan tanda tanya sebab kerinduan dan memoriku akan banyak hal tiba-tiba rekah dari ingatan di kepala. Tentang masa kecil yang terlelap tiba-tiba tegak berdiri sebagai kenangan masa yang tak bisa kumasuki kembali kecuali lewat ingatan; memandang dari balik kaca yang muram kanak-kanak berlari, menari besama hujan, mendongak menatap langit murung kelabu. Aku tak bisa menikmatinya sebab peraturan bagai sebuah dogma bahwa: bermain hujanlah, maka air hujan akan merambati tubuhmu hingga sumsum lalu ia akan memelukmu dalam rasa sakit dan terbaring.

Kenapa kanak-kanak harus dibelenggu aturan untuk tidak bermain hujan?

Sebab hujan adalah penipu. Ia memburamkan keadaan. Pesulap yang mahir menyihir kota-kota terpaku dalam dengkur berkepanjangan. Dan kau bocah...masih terlalu tunas mengenal sakit pada raga.

Tapi mungkin itu sakit yang nikmat, ibu. Belajar untuk senantiasa kebal agar di masa mendatang kita demikian karib pada hujan dan bisa berdamai karena sebuah kebiasaan dan pemakluman.

Hujan telah menciptakan kolam-kolam di sepanjang jalan berupa ceruk. Surga buat katak penjantan yang merindu cinta betina lewat nyanyian. Begitu juga rumahku yang mungil, lewat celah-celah atap yang bocor hujan merasuki rumahku bagai pencuri. Maka mangkuk, porselen…menciptakan harmoni hujan yang bernyanyi.

Tapi hujan juga bius buat tuan dan nyonya pemalas yang mahir mendengkurkan waktu. Melaju tenang di balik selubung atau mengontrak mimpi menjadi satuan episode. Sebab terik atau hujan pundi-pundi tetap mengembang bergelembung. Tak perlu cemas, hujan adalah kenikmatan. Tapi lihatlah pejuang-pejuang yang bergantung pada cuaca, kebasahan dan merutuki mengapa hujan datang tak bisa dikompromi.

Untukmu hujan kutulis surat ini. Meskipun tak sepenuhnya aku mencintaimu aku menginsyafi kau adalah karunia Tuhan dan aku percaya kau adalah peri-peri polos yang menari di antara kemurungan musim...



Dari hujan kesekian di kotaku, 2010
Agus Kindi

DALAM DOA, MATA KETIGA


Dia akan berangkat menulis pesan pada dingin yang tiba-tiba singgah
di sebuah pelayaran perahu bercadik
menanti dengan ketukan cemas di ujung dermaga tak punya nama
--ia menggerutu pada waktu dan dermaga pun hilang bentuk
suara yang kering tak sempat membisikan apa-apa
cuaca datang terlalu gegas, pelayaran ini pelayaran
yang dicetuskan oleh mata ketiga doa-doa paling relung

Angin dan dingin seperti dua gadis kembar; menyanyi untuk kehilangan
menari sesuatu yang dicari dalam kais bayangan
lilin--gulung doamu biar berlabuh dalam ingatan
waktu, sebelum cahaya berangkat pada peluit
paling akhir pelayaran

Ibu, disinilah akhir tuju
masuk dan lelap dalam waktu kesadarn penuh
: aku tidak sedang berenang dalam rahim gelapmu.

Rahim paling langit yang menyusutkan mimpi-mimpiku
dalam maha paling gelap pelayaran ini

: kenapa harus ada doa yang tengadah di luar pintu itu?
setelah tahlil tak letih menyusui aku


7 November 2011

LABIRIN SEBUAH KOTA


: Teluk Betung

Sepertinya aku tersesat di kota sendiri, merangkum kenangan lama. menanti di setiap ujung tak pernah kutahu dimana bermula. tikus-tikus kecil meraba nama jalan, memahat dengan baik dongeng hantu dan arloji seakan diam berdetik.

dan selokan, nama toko-- ada yang samar bergema di ujung persimpangan bunyi kelenteng tua. lalu dimana aku berada? dimana ruang realita selain ruang asing dalam alur labirin-labirin. disini hanya ada sudut kota tua, nominal dan harga, toko-toko yang asing kukenal. Aroma manisan dan dupa, keleneng lonceng kota yang sayup.

apabila malam kutersesat menemukan jalan pulang. bertanya pada setiap pejalan kaki dimana kota ini berpeta? mereka menjawab,”ini sudut kota kita

yang masih menyisakan gema masa lalu yang jauh.”


Oktober 2011

SEORANG LELAKI PEMELIHARA MAWAR DI JANTUNGNYA


Hidupku sudah memasuki zona cemas, di depan lalu lintas berwarna merah.
aku terhisap dalam sebuah ruang dimana jantungku sudah mesti
pecah karena sepi

manzil bagi cinta yang datang lalu pergi dalam jubah
yang ditinggalkan seseorang yang mengucap dan menanggalkan harapan
ya, dalam amplop warna gading perempuan mengembangbiakan ciuman
paling mawar di ruang ini
amplop terus kugenggam dan simpan dalam saku, takut
bila lampu lalu lintas memerah aku melupakan ciuman-ciuman

yang pernah menjadi dosa paling bahagia

kuwasiatkan pada kanak-kanak mawar, tumbuhlah dalam kekal pemuda
dalam ruang dan kebun dimana wahai engkau, pemilik sepenuhnya

ingin kuurai lagi waktu di rambutmu setelah detik-detik luruh tak cukup membayar penyesalan yang tiba

Renggutlah jantungku yang tersimpan beribu mawar itu

November 2011

DI KEPALA KAMI SANGKAR ABABIL


/1/
Seorang anak kecil membawa sangkar ababil dalam kepalanya.
ababil lahir dari lemparan ketapel, disini tak ada lagi ruang
selain saling melempar doa dan kutukan. bertukar bayang-bayang,
bertukar geram hingga gema muncul di sudut itu.
sekuntum waktu masa kanak kami yang hilang, menyimpan
kuburmu, serdadu...di ruang perundingan yang terus membeku.
dan kata beralih janji yang tiada

Di keningmu serdadu...kalian nyanyikan sejuta peluru
dimana lagi kami bisa meramu tangis yang hilang jadi bendera
untuk kemerdekan diri sendiri dan negeri.
jerit menjelma sayup di perbatasan ketika nyawa lesap
jadi debu dan asap.

Saksikanlah...
Amru, Shad, Fatimah, Hilal, Rajbi...
di kepala anak-anak yang tak lagi memiliki buku harian penuh
dongeng dan nyanyian
masa kanak hilang dan keberanian jadi panglima dalam gelegak
dada kita dan mimpi syahid di ujung mata


/2/

Saksikanlah...
Nablus, Jenin, Gaza, Tepi Barat...
dan kota-kota yang mengenal baik aroma darah yang pecah
di kepala kami berlahiran ababil-ababil hingga sangakala ditiupkan
melemparkan batu bagi kuburmu.
Kami adalah pohon yang tercerabut dan terusir dari tanah air sendiri
peluru demi peluru melempar dengung kematian
tak lagi bermata bagai capung padang pasir yang gemetar

Mantra-mantra mesiu yang terbakar di pohon zaitun, atap rumah
dan peradaban, telah dirobek oleh sejarah--mengalir sungai-sungai darah
kiblat dibelokkan, mesiu bercerita kebiadaban
malaikat-malaikat kecil melahirkan ababil yang terus ada
dalam geletup nadi pejuang: menegakkan kalimat tauhid
seribu peluru jadi bayangan, sijjil datang untuk kehancuran paling ajal

Hitunglah berapa ababil yang terbit menuju kuburmu, serdadu....
dari negeri cinta, tanah air
ayat-ayat doa kami ayat-ayat api

Terus menyala dan berkobar hingga sangkakala berbunyi
dan kebiadaban musnah di bawah kaki dan bendera
yang tak pernah sanggup bercerita berapa harga

: tangis, darah, dan kematian di tanah ini...



Kemiling, September 2011
NB: Alhamdulillah dinobatkan sebagai juara 1 lomba Puisi Palestina yang diadakan FLP Depok :)










LELAKI YANG MEMBENCI LAUT


ia selalu melihat bayang-bayang kematian di laut seperti cermin. usianya 3 tahun ketika melihat ayahnya tenggelam di laut; luka cabikan ketika didamparkan ke tepi. kenangan buruk menanti. duka berkabar, ayahmu dirampok sekelompok perompak. mengambil hasil tangkapan, menyisipakn golok di tengkuk.

tapi istrinya, perempuan berkulit legam. penjual makanan di penyeberangan bakauhueni. rumahnya dipagar laut. ini permainan Tuhan, kalau mereka bertemu dan berjodoh. ketika istrinya tinggal beberapa bulan di kota.

ayah mertua menjemput maut. perempuan pulang untuk takziah. ia memilih tak datang; rumah panggung di tepi laut. musiknya gelombang yang berlabuh. aku tak mungkin datang. bisakah kau menghapus laut, menggiring takut pada surut?

dua minggu menunggu istri yang tak pulang. ia beranikan menempuh jarak, meski ciut menikam luka lama. lelaki beranikan menatap laut. melihat istri bergandengan dengan lelaki dari masa lalu.

“aku ingin kemana saja tapi jangan kau paksa aku menatap laut”. debur kematian, jala bagi nyawa menggelepar. maka ia memekik, memegang kepalanya: arus laut berpusar bayang, kembali: lelaki dengan luka cabikan, darah berceceran dipanggul ke muka rumah, lalu

lelaki yang memegang tangan istrinya dua hari lalu, menggorok lehernya beberapa hari kemudian.



Oktober 2011

DAFTAR NOVEL AGATHA CHRISTIE YANG SUDAH AKU BACA


Pertama kali aku membaca novel Agatha Christie berjudul Pena Beracun. Novel itu sudah tak bersampul dan halamannya sudah cokelat. Aku menemukannya di sebuah rak sepatu di rumah nenek. Itu milik seorang teman pamanku. Aku membawanya pulang. Hingga suatu hari tergerak untuk membacanya. Saat itu kira-kira masa SMP atau awal SMA, track record bacaanku masih sedikit, selera membaca pun masih rendah.

Tahun 2006, saat pertama kalinya datang ke Perpustakaan Daerah, aku terpukau dengan banyaknya novel-novel Agatha Christie. Novel pertama yang kupinjam berjudul MEREKA DATANG KE BAGHAD. Aku memilihnya secara sembarangan diantara rak novel-novel Agatha Christie. Untungnya cerita itu cukup membuatku terpukau akan nuansa teka-teki dan suspense di akhir ceritanya.

Ada 80 novel detektif karya Agatha Cristie. Sebuah kebanggaan aku bisa membaca separuhnya. Berikut aku tuliskan novel-novel yang pernah kubaca itu, karena sudah lama dan tak ingat rincian judulnya, maka dibantu om google aku mendata dan mengklasifikasi dengan beberapa penilain pribadi.

1. The Mysterious Affair at Styles (Pembunuhan di Styles)
2. The Secret Adversary (Musuh dalam Selimut)
3. The Man in the Brown Suit (Pria Bersetelan Cokelat)
4. The Mystery of the Blue Train (Misteri Kereta Api Biru)
5. The Seven Dials Mystery (Misteri Tujuh Lonceng)
6. The Murder at the Vicarage (Pembunuhan di Wisma Pendeta)
7. Peril at End House (Hotel majestic)
8. The Hound of Death (Anjing Kematian)
9. The thirteen Problems (Tiga Belas Kasus)
10. Lord Edgware Dies (Matinya Lord Edgware)
11. Murder on the Orient Express (Pembunuhan di Atas Orient Express)
12. Parker Pyne Investigates (Parker Pyne Menyelidik)
13. Why Didn’t They Ask Evans? (Pembunuh di Balik Kabut)
14. Murder in Mesopotamia (Pembunuhan di Mesopotamia)
15. Death on the Nile (Pembunuhan di Sungai Nil)
16. Dumb Witness (Saksi Bisu)
17. Ten Little Niggers (Sepuluh Anak Negro)
18. Murder Is Easy ( Membunuh Itu Gampang)
19. Hercule Poirot Christmas (Pembunuhan di malam Natal)
20. N or M (N atau M)
21. The Body in the Library (Mayat dalam Perpustakaan)
22. The Moving Finger (Pena Beracun)
23. The Labours of Hercules (Tugas-tugas Hercules)
24. Crooked House (Buku Catatan Josephine)
25. A Murder Is Announced (Iklan Pembunuhan)
26. They Came To Baghdad (Mereka Datang ke Baghdad)
27. A Pocket Full of Rye ( Misteri Burung Hitam)
28. Destination Unknown ( Menuju Negeri Antah Bearntah)
29. 4:50 from Paddington (Kereta 4.50 dari Paddington)
30. Cat Among the Pigeons (Kucing di tengah Burung dara)
31. Hallowen Party (Pesta Halloween)
32. Passenger to Frangfurt (Penumpang ke Frangfrut)
33. Postern of Fate (Gerbang Nasib)
34. Miss Marple’s Final Cases ( Kasus-kasus Terakhir Miss Marple)


BERIKUT KLASIFIKASI PENILAIANKU DARI JUDUL-JUDUL YANG PERNAH KUBACA DI ATAS:


NOVEL AGATHA CHRISTIE YANG CERITANYA CEMERLANG:
1. Kucing di Tengah Burung Dara
2. Pria Bersetelan Cokelat
3. Iklan Pembunuhan
4. Buku Catatan Josephine
5. Mereka Datang ke Baghdad
6. Sepuluh Anak Negro
7. Pembunuhan di atas Orient Ekspress
8. Gerbang Nasib
9. N or M


NOVEL AGATHA CHRISTIE YANG MEMBOSANKAN:
1.Saksi Bisu
2. Membunuh Itu Gampang
3. Penumpang ke Frangfrut
4. Pesta Hallowen


NOVEL AGATHA CHRISTIE YANG INGIN DIBACA KARENA PENASARAN
Karena tidak semua judul novel Agatha Christie tersedia di Perpustakaan, aku ingin sekali membaca 2 judul yang kabarnya punya kesan sendiri buat sebagian orang yang pernah membacanya. Dua judul itu, yaitu:
1. Tirai (Novel penutup dimana tokoh Hercule Poirot sang detektif meninggal dunia)
2. Pembunuhan atas Roger Ackroyd (Konon kabarnya salah satu buku yang memukau)


Ah, kawan demikian daftar ini kubuat. Suatu saat dengan membaca kembali daftar ini mungkin aku bisa sedikit mengembalikan cerita yang pernah kubaca itu ke ruang imajinasiku. Terima kasih...

Juli 2011

GADIS JERUK: MISTERI KESEMENTARAAN DAlAM SIMBOLIK TELESKOP HUBBLE


JUDUL: GADIS JERUK
PENGARANG: JOSTEIN GAARDER
PENERBIT: MIZAN PUSTAKA
TEBAL: 252 HALAMAN
HARGA: 42.000

Bagaimana bila kau menjadi Georg, seorang remaja berusia 15 tahun mendapat sebuah surat dari ayahnya yang sudah meninggal 11 tahun lalu? Sebuah surat yang telah dipersiapkan cukup lama dan matang diselipkan di kain kereta bayi di gudang.

Sebuah surat yang menceritakan pertemuan ayahnya dahulu dengan gadis jeruk dengan segala macam dugaan dan petualangan seperti dongeng.

Gaya khas Jostein menghadirkan tema yang sederhana, dengan pengalihan cerita yang tampak rumit, membuat pembacanya penasaran dengan teka-teki yang dihadirkan dengan gaya surat. Tidak itu saja, pembaca diajak bertamsya dengan beberapa ornamen simbolik, filosofi sederhana tentang sebuah konsep kesementaraan waktu. Tidak hanya memfokuskan cerita pada misteri si gadis jeruk namun tanpa sadar membahas konsep makro dalam Astronomi. Terkadang bahasa IPTEK dan mungkin agak susah ditangkap sekali lewat.

Namun kepiawaian Jostein Gaarner meramu suspense dapat dipastikan membuat pembacanya bergegas membaca halaman demi halaman memburu jawaban tentang si gadis jeruk.

Ini buku ketiga karya Jostein Gaarder yang saya baca. Setelah Misteri Soliter dan Perpustakaan Ajaib Bibbi Boken. Tema yang dihadirkan selalu unik meski ada satu benang merah yang menjadi gaya khas, gaya tutur Jostein menyampaikan cerita plus konsep kefilsafatannya secara sederhana. Ini bisa dimaklumi karena latar belakang penulis yang merupakan pengajar Filsafat. Biasanya pembaca dijebak dengan petualangan dan konsep dugaan yang terkesan rumit padahal sesungguhnya kunci jawabannya sederhana, bersetting kota-kota di Norwegia, dan dihadirkan dengan gaya tutur surat yang berselang-seling.

Lalu siapakah gadis jeruk itu sebenarnya? Georg diajak menyusuri pengalaman dan perjalanan ayahnya menemukan jawaban seseorang yang ia kenal sebagai gadis jeruk dan pertanyaan: mengapa ia selalu membawa sekantung penuh jeruk? Dan bagaimana mereka bertemu di perkebunan jeruk di Spanyol untuk sesuatu bernama cinta? Rahasia apa yang disimpan ayah Georg? Setelah misteri gadis jeruk terpecahkan, Jostein mengajak kita untuk merenungi sebuah konsep alam semesta dengan mengambil secara simbolik teleskop hubble. Bahwa waktu dan kehidupan juga kepergian menjadi mata rantai yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Masalahnya: pernakah kita merenungi dan menyadari bahwa hidup ini hanya sementara yang sewaktu-waktu harus berakhir? Dan apa yang bisa kita lakukan sebelum waktu itu tiba?

Jostein Gaarner, akan mengajak pembacanya merenungi hal itu secara sederhana lewat cerita Gadis Jeruk ini. (Agus Kindi)


September 2011

IBU, RAJAWALI ITU...


ketika lahir seharusnya aku jadi burung
tapi kata ibu sayapku belum rajawali
ketika aku mengecup dunia mestinya aku jadi udara
tapi kata ayah aku belum bisa membaca cinta
saat dewasa mestinya aku jadi rajawali yang mengudara
tapi kata mereka: lupakan..kamu jadi manusia normal saja
yang berjalan bagai prajurit dikomando titah
dan sabda

ruang yang diberi rantai memasung tangan dan kaki
di bawah kata merdeka yang dipekikan


dunia!


(Agus Kindi, November 2009)


Seekor rajawali melintas di padang luas, turun rendah pada dahan pohon tua.
“Ibu, apakah rajawali itu punya orangtua?”

“Tentu saja...apa yang kau pikirkan?”

Diantara gelembung-gelembung sabun yang melayang, kuperhatikan cermat.”Mereka bebas dan tangguh...betapa merdeka!”

Ibu tak pernah memberikan kartu yang bisa membuatku merdeka. Kenapa?Bukankah aku sebentuk tanah yang dititipkan dalam perut untuk kemudian terbang mengendus mimpi-mimpinya paling jauh sekalipun? Anak panah yang kelak melesat sendiri...”

“Sudahlah, Bujang...masa lalu adalah sarang laba-laba tak lagi perlu pembahasan oleh kata: KENAPA?”

“Tapi hidupku terus bergerak...dan masa lalu bagai benang yang membuat langkahku terkendali...aku ingin lepas dan bebas.”

“Kau ingin seperti rajawali itu? Bebas tanpa kendali?"

“Tapi tak akan pernah bisa. Semua sudah terlambat. Aku hanya menikmati sisi lain dari keterpencilan gerak dan pikiran karena ibu dan ayah telah menciptakan ruang-ruang sempit sejak akau kecil. Dan ini sangat membuatku menderita”

“Aku tak pernah menjadi pribadi mandiri, padahal aku laki-laki. Haruskah aku menikmati semuanya ini seperti aku menikmati buah ceri?”

“Kau menuduh ibu demikian kejam, bujang...semua yang kau gugat hanya bentuk kecil bahwa ibu melindungimu dari segala kejahatan makhluk dan kejahatan dunia...”

“Tapi mestinya itu berbatas...bukan selamanya.”

“Sekarang aku terpojok. Semua menyalahkanku, padahal ibu tahu bahwa dunia ini adalah tangan dari hukum sebab akibat. Pola asuh yang salah meski dengan semangat cinta dan melindungi...”

“Jangan terus menerus menyalahkan takdir...tak bagus...”

“Aku hanya ingin bila waktu berulang, ibu dan ayah mengembalikan hidupku seperti anak-anak lain: bebas memilih teman, bebas memilih kegiatan, bebas bermain, bebas berkelana bersama kegiatan-kegiatan, melepas dan mendukungku untuk mandiri di kota lain sembari mengeja abjad-abjad mimpiku yang akan datang...bukan memaksaku untuk memilih mimpi kalian untuk aku turut memilihnya, meskipun itu hanya omong kosong. Dan kalian tak mau berkorban untuk perwujudan mimpi-mimpiku. Karena mimpi harus didukung oleh kesedian materi. Bebas memilih apa yang baik dan tidak baik menurutku, bebas kemana langkah dan pikiran melangkah jauh...”

Ibuku terdiam. Rajawali itu tiba-tiba terbang tinggi, diantara gelembung-gelembung sabun di padang luas depan kami.

“Aku seperti sebuah definisi panjang prosa...aku seperti kertas lipat yang tak bisa melipat nasib dan mimpinya sendiri...”

“Salahkan ayahmu yang overprotektif untuk satu-satunya anak lakinya...”

“Tidak, itu juga diperlakukan kepada anak-anak ibu yang lain. Tapi kalian salah menempatkan diriku degan azaz keadilan bahwa semua diperlukakn sama. Itu tidak bijak bukankah aturan untuk laki-laki dan anak perempuan berbeda? Kenapa aku di sama ratakan!”

“Ayah memperlakukanku seperti Pinokio. Dia Gupeto tua yang memahat boneka kayu dengan rasa sakit dan berharap jadi tangan panjang obesi-obsesi yang tak terwakili oleh nasib masa lalunya...dan kini akibatnya: aku sudah terlambat...aku jengah.”

“Ibu adalah peri biru yang kadang tak berdaya, melindungi namun menciptakan jaring-jaring kemanjaan.”

Dunia sudah banyak dibelenggu oleh peraturan naif dan picik. Alam akan membuatku dewasa dan berkembang. Aku bagai boneka bertali yang selalu diawasi. Tuhan akan setia menjagaku, seperti rajawali itu. Karena waktu tumbuh... pikiran, perasaan dan obsesi bukan milik orangtua sepenuhnya.

Ibu, aku ingin menjadi rajawali meski kini sayap-sayapku basah. Dan tolong, lepaskanlah aku dari belenggu dan tali itu.

Rajawali terbang jauh tinggi mengangkasa. Kapan kau mencatat namaku di sana? Gelembung-gelembung mimpiku bagai gelembung sabun yang indah, bulat, bias lalu pecah jadi cerita.


7 September 2011
Hanya sebuah analogi :)

HANTU IKAN


jangan sampai kami mati di perut saudara kubur kami dalam keranda air biar kami cium nisan laut nisan kali
kami mati tak meninggalkan puisi sebab mati persembahan bagi tubuh bagi protein dalam lapis kulit dan sisik dalam gelembung dan amis

kanak-kanak menemukan ikan mati di sungai
dari celah sirip tertulis wasiat: jangan kubur aku di sungai
bila di sungai ikan mati konyol dicakar ombak
bila dilarung di kali ikan jadi hantu

kata ibu ini kewajiban mengubur makhluk hidup
yang tiada. tak ada nafas lagi teman, ikan ini tak juga
mengejang
mungkin ia mabuk laut atau dicekik angin darat
ikan tak pernah berobat, ikan tak punya dosa

kanak-kanak memandikan jasad ikan sebelum jadi hantu
dibungkus kain perca, ditetesi air mata duka
dan kehilangan
kanak-kanak mengubur di kebun belakang
tanah lembab sehabis hujan.
tertempel tonggak ranting kayu pertanda: telah meninggal dunia
ikan pengembara tak bernama
maafkan segala kesalahan bila hidup ia tercela

kanak-kanak berdoa
semoga ikan malang masuk surga
doa kata ibu akan sampai setulus pendoa, sebab Tuhan
mengenal semua bahasa

dipetik bunga dan daun, ditabur dalam pusara
ikan, semoga nanti malam tak jadi hantu berkelana
selamat tinggal ikan bila jadi hantu cekik saja angin
hancurkan jala dan pancing

kanak-kanak kembali bermain, duka tak ingin
menyusut ceria terlalu lama
seekor kucing 10 menit mencium aroma, mencangkul jasad
mencari tanda yang ada di tulang kepala
--malam tadi ia bermimpi mendapat harta karun!


3 Agustus 2011

REINTERPRETASI TRADISI BALI DALAM NOVEL PUTRI


JUDUL : PUTRI
PENGARANg : PUTU WIJAYA
PENERBIT : PT. PUSTAKA UTAMA GRAFITI
JUMLAH HALAMAN : 533 HALAMAN


Apa yang membedakan membaca novel pop--dengan jumlah halaman yang sama --dibandingkan dengan membaca novel sastra? Satu hal yang pasti adalah kecepatan. Apabila novel pop dengan bahasa yang longgar memerlukan waktu 2 hari, maka dalam membaca novel sastra itu tak berlaku. Bisa menjadi lebih panjang dan lama. Apa penyebabnya? Pertama, tentu berkaitan dengan bahasa dan tema. Yang tak bisa diabaikan adalah suspense. Novel pop menawarkan banyak suspense cepat yang menyeret pembacanya untuk mengikutinya sampai ending, sementara novel sastra dengan bahasa yang rapat menawarkan cakupan permenungan yang tak sederhana. Permasalahan sosial yang coba dibangkitkan melalui tokoh-tokohnya. Adakalanya, membaca novel sastra tak bisa dibaca terburu-buru.

Putri merupakan novel yang menawarkan kompleksitas tokoh-tokohnya dengan satu tema besar: tradisi bali. Putu melalui tokoh-tokohnya secara blak-blakan mendebat tradisi bali dengan pemikiran dan konsep yang kritis. Bahwa tradisi itu harus disesuaikan dengan perubahan zaman yang realistis dengan pikiran kekinian. Kemampuan Putu Wijaya sebagai sutradara, penulis skenario, penulis cerpen, budayawan sangat terlihat, sehingga novel ini hadir dengan bentuknya yang luwes: dialog cerdas, adegannya cepat, tanpa berbasa-basi bahasa untuk menunda persoalan yang hendak dikemukakan. Banyak tokoh yang dihadirkan saling terkait. Bahkan tak sedikit yang mengejutkan. Tak sedikit menghadirkan dialog yang jenaka, dan karena dihadirkan secara blak-blakkan, tema cabul—ditempatkan sebagai tema sosial bukan eksploitasi cerita-- pun terselip diantara cerita ini. Bahasa hadir dengan apa adanya. Putu bisa membagi pembahasan tokoh-tokoh yang hidup di sekitar Putri dengan segala persoalan yang secara tak langsung masuk dalam benang merah kehidupan Putri, gadis Bali yang memandang tradisi dengan kritis berikut budaya-budaya yang sudah usang. Karena lokalitas Bali yang diangkat, maka cerita di dalamnya bersetting bali dengan segala pernik tradisinya yang unik berikut konsep-konsep yang berlaku. Dengan gaya khas Putu menyindir kehidupan sosial dan membuat pembacanya ikut tercenung menghadapi masalah sepele, tapi banyak terjadi. dan diterima sebagai bentuk kemunafikan yang terang benderang.

Tapi ada bagian nilai hidup yang coba dikaji, diperdebatkan dan diinterprtasi kembali. Banyak Filosofi pemikiran kritis yng diajukan dan bertebaran dalam novel ini. Terkadang idealisme pribadi harus berhadapan dengan situasi yang bertentangan dan telah menjadi budaya yang realistis. Bahkan terkadang hipokritisme sangat dibutuhkan untuk bertahan dari segala bentuk kondisi.


“Tapi yang kita hadapi sekarang bukan kampus, “ sambung Nelly. “Ini adalah kehidupan yang nyata, yang berlapis-lapis dan liar. Kehidupan di luar kampus tidak mau diperintah oleh sistematika yang sudah dirumuskan oleh buku. Setiap kali ditebak, dia menggelepar. Apa artinya seorang sarjana sastra tanpa sejumlah mahasiswa yang ingin lulus ujian? Tidak ada. Kamu tidak menghadapi mahasiswa yang memburu ijazah di dalam pergaulan sehari-hari. Kamu menghadapi pedagang-pedagang yang rakus mengumpulkan uang. Diantara mereka kamu hanya seekor anjing pencuri. Kau harus meyakini posisimu dan melakukan apa yang sudah dilakukan oleh anjing-anjing itu. Rebut makanannya dengan cara apa saja. Kalau tidak kamu tidak akan kebagian!”

Adalah Putri, gadis Bali yang hidup diantara tradisi dan modern. Setelah menamatkan kuliahnya di jurusan sastra dengan prestasi gemilang dan menjadi ikon gadis Bali dengan membawa konsep tradisi barunya, ia gamang kembali ke dunia nyata--dunia masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya desa Meliling, bukan dunia kampus-- ia berhadapan dengan banyak hal yang menggeser pemikirannya. Masalah muncul menjadi tak sederhana dan membuatnya gamang. Konflik dan persolan pun dimulai: tata nilai masyarakatnya sudah bergeser. Putri mencoba mempertahakan idealisme yang kritis, namun itu bukan perkara gampang. Segala hal yang dilakukannya selalu menawarkan konsekuensi. Ilmu yang didapat di bangku kuliah ternyata tak berlaku dalam kehidupan sosial yang real

Karena novel ini sangat kompleks, tokoh-tokoh yang mengikuti Putri pun membawa persoalan-persoalannya sendiri dan saling berkait. Tokoh-tokonhnya hadir mengambil porsi dan hadir pada adegan-adegan. Mulai dari Oka (wartawan idealis), Nelly (teman kuliah Putri yang memplagiat konsep skripsi tradisi baru milik Putri bersama ayahnya, Palakarma berambisi membangun mega proyek yang kapitalis), Wikan (anak seorang Ratu Agung Aji di Puri Puncak yang mencari identitas, dan perlahan mencintai Putri).


Tak itu saja, Putri harus menghadapi persoalan di lingkungan keluarganya sendiri: Kematian adiknya Made yang membuat ibunya Men Putri,mengalami gangguan kejiwaan; Ayahnya Mangku Puseh yang bijak tapi terkadang naif tak henti memaksanya untuk menerima pinangan Ratu Agung Aji; adiknya Nyoman yang hamil di luar nikah. Belum lagi kehadiran Man Sadra—tetangga yang masih terhitung kerabat yang keluarganya memiliki konflik internal dengan keluarga Putri--mencuri kesempatan untuk mencabuli Putri karena mengidap maniak sex. Pada suatu hari sebuah insiden menimpa Man Sadra—dikebiri (alat kelaminnya dipotong) oleh pemuda-pemuda tetangga desa karena kebiasaanya suka mengintip orang mandi itu---merubah dirinya menjadi Balean (dukun sakti penyembuh segala penyakit).

Lalu Wikan? Pemuda yang diam-diam mencinta Putri harus mengalami krisis identitas budaya, tradisi dalam lingkungan Puri setelah pulang dari Amerika. Setelah serangkaian konflik Wikan kembali ke Amerika untuk melupakan identitasnya; ayahnya Ratu Agung meninggal dan menjadi sasaran balas dendam setelah mayatnya yang hendak dingaben, bermai-ramai diterjunkan ke jurang; konfik kepentingan di Puri.
Namun saat berada di Amerika--sebuah negara yang menjunjung kebebasan dan demokrasi, Wikan kembali dihadapkan banyak persoalan. Perbedaan budaya yang bebas dan hipokrit, ia menjadi sasaran kepentingan dan tujuan-tujuan tertentu sahabat dari negerinya sendiri--yang ternyata seorang homoseks. Dan ia pun dihadapkan kembali pada pertanyaan: apakah saya Indonesia? Siapakah saya?

*


Secara pribadi saya kagum dengan kualitas penulisnya yang sudah tak diragukan lagi. Bukan lagi cerita rekaan yang kosong. Ada sebuah nilai, konsep dan gugatan terhadap tradisi Bali yang terwakili oleh tokoh-tokohnya. Terus terang, beberapa kali saya mencoba menyerah untuk menamatkannya karena Putu tak membuai pembacanya dengan rerimbun bahasa bunga. Tapi lebih menekankan pada dialog dan kata-kata kritis yang bernada konsep. Mungkin bagi yang terbiasa membaca novel pop, akan segera mengakhirinya dengan kecewa. Menamatkan novel ini sebuah tantangan tersendiri buat saya, Putu dapat mengembangkan bagian-bagian cerita menjadi kompleks dan terkendali.

Dan saya berharap bisa membaca kembali novel Putri bagian kedua dengan ketebalan yang sama di Perpustakaan Daerah. Novel ini sudah sulit didapatkan di toko buku dan secara cover juga tidak menarik. Tapi saya tetap percaya, membaca novel sastra tak akan menuai kekosongan setelah menyelesaikannya: ada sesuatu yang tertinggal di ruang ingatan dan menjadi cerminan kehidupan di masa mendatang...


Segalanya tumbuh kalau diberi waktu. Jangan takut memberikan sedikit waktu karena semuanya itu sedang tumbuh. Satu detik, dua detik satu hari, 1 bulan yang diulur, bisa mengubah segala-galanya....

Salam...


Kemiling, 13 September 2011
Keterangan: kutipan dialog yang saya kutip di paragraf ke-4, merupakan dialog saat Putri hendak melamar pekerjaan dengan ijazah sarjananya dan ternyata tak mudah semata-mata mengandalkan ijazah tapa koneksi (sebuah fakta sosial, bukan?).



ABSURD


pagi seperti lonceng yang muncul di kepalaku setelah lampu-lampu mendgkur menjamah selimut setelah langit pupus janji janji bertukar dimensi pada jam tangan tua yang trgeletak di meja mari kukelabang langkahmu kembali setelah tergerai dalam lampau yang berdandan mimpi siapa pulas sendiri bergantung di pohon tua di dpan beranda kamarmu mimpi siapa yg tewas brdarah di kebun belakang itu kmudian sayap keberapa yang menyisakan bulu yang layu menggali makam sendiri di ujung pintu oi entah stlah janji dari tekad telur membuahi angan-angan yang absurd diantara ruang tawa dan sepi entah mimpi mana lagi yang mengulur tali dan mencekik lehernya sendiri di ujung dari segala ujung langkah yang tak bisa gegas lagi bawa khayalan absurd ini ke langit berjemur bagai turis meskipun tak lagi punya nyali untuk unjuk gigi maka terbanglah dgn kepak yang mash tersisa menghabiskan sisa takdir dan karma yang semakin pongah di hari~hari yang tak bisa trbyar oleh tangismu yang menjelma angka~angka dan pertanyaan

itu

25 Agustus 2011

BAGAIMANA RASA PASTA ITU, CHEF ?


Saat mesin pesanan itu berbunyi Chef, kau bergerak dan menarik kertas pesanan itu keluar, lalu dengan lantang berteriak: “Pesanan pasta untuk meja no 13...kerjakan!”

“Baik Cheff...!!”

Aku bersama delapan koki bawahan menjawab lantang yang telah menjadi bagian dari sebuah disiplin. Ya, Chef...kami akan bergerak bagai seperangkat robot control. Menghadapi kompor gas berapi biru dengan wajan bulat ramping teflon berminyak. Suara penggorengan beradu, langkah-langkah gegas berpacu waktu. Bau asap, aroma bumbu...menebar ke dinding-dinding dan udara dapur.

Lalu apa yang harus kulakukan?

Sebelum jam kerja dimulai, asisiten dapur sudah menyiapkan semua bahan dengan rapi. Fettucine yang berbentuk seperti seperangkat dupa itu direbus dalam air dengan setengah sendok teh garam. Setelah lunak kenyal dan berbentuk seperti mie, asisiten dapur telah meniriskan ke suatu wadah khusus. Baik, kuhidupkan kompor berapi biru dengan sebatang tongkat, memanaskan wajan dan memanaskan minyak untuk membuat saus.

Kasihan...kulihat asisiten dapur bergerak ulang alik menuruti perintah koki lain: mengambil daging di ruang pendingin, mencuci wajan, mengambil anggur, menyiapkan piring saji, mengambil bumbu...semua harus dilakukan dengan cepat, sebab tamu sedang menunggu. Hah, menjadi asisten hanya langkah pertama sebelum kau dipercaya memegang wajan dengan satu konsentrasi membuat satu menu makanan.

Wajanku telah mendidih. Berbuih dengan aroma asap. Setelah mentega mencair dalam panas wajan, kutumis bawang bombay sampai aromanya mencucuk hidung lalu daging cincang beradu hingga berubah warna, susu tawar cair, saus tomat dan rebusan tomat lalu fettucine...bergumul dalam wajan. Tambahan minyak sayur, minyak zaitun Wajan berdesis-desis. Aku hanya perlu menggoyang wajan agar tercampur merata di atas api biru. Sedikit beratraksi: membalik pasta dengan sedikit menyentakkan wajan ke atas agar pasta teraduk rata. Perfecto...sempurna!

Tapi kau tentu tak diam saja di depan kami, Chef...kau mengontrol mengelilingi meja persegi berkompor dimana kami meramu aroma dan rasa. Kau menegur dengan kejam, sesekali mengambil alih bila kami bekerja terlalu lamban. Kau yang telah terlatih mengambil dua wajan, di kedua tanganmu wajan bergoyang dengan dua tangan bagai aksi akrobatik di atas api hingga teraduk rata.

Pasta buatanku telah selesai. Setelah kutata dengan manis di atas piring porselen kutambahkan saus bolognese dan menaburi cabikan kecil keju parmesan di atasnya, selembar daun mint, ditambah garnis lalu kau mengontrol rasa. Dan kau terlalu kejam bila rasa pasta itu kurang menggigit di ujung lidahmu maka aku harus mengulanginya lagi. Bila pas kau akan membawanya ke meja persegi tak jauh kau berdiri setelah sebelumnya mengelap pinggiran piring yang masih menyisakan sisa bumbu. Kau membawanya ke atas meja saji, membunyikan lonceng kemudian pelayan dari ruang makan dengan tubuh kaku berompi, berdasi kupu-kupu datang menghidangkannya kepada tamu.

Chef?Ya, kaulah lelaki berbaju putih dan berdasi warna merah berdiri di depan kami. Lelaki yang tak mengenal kompromi lulusan Italia. Sementara kami belum setaraf, masih berdasi hitam. Sebuah ruang kecil di belakangku, gudang dimana bahan makanan disimpan, ruang bertemperatur dingin, tempat sayur dan daging beku juga kerang-kerang direndam.

Maka tak akan ada keributan, saat kami berkonsentrasi menyiapkan menu pesanan selain perkakas dapur, lihat...Co Chef di dapur yang berdasi biru itu berakrobat: Saat daging dimasukan ke dalam wajan, api membunmbung besar di sekitar wajan, lalu sekejap potongan daging itu hangus terpanggang.

*

Antara cinta, aroma dan pasta. Ah, kupikir pasta yang ramping panjang seperti juga cinta. Sebelum berbumbu ia hanya bahan ingusan yang tak mengenal apa itu rasa. Seperti kanak-kanak sekolah dasar yang masih naif mengenal apa itu cinta lawan jenis. Lalu bumbu adalah tahun, pengalaman sebab rasa cinta tumbuh bersemi seiring bertambahnya kepekaan. Kau bilang begitu Chef?

Tapi pasta juga usia. Ramping panjang yag berakhir menyedihkan. Tapi saat menjadi sepiring pasta yang menggoyang lidah berdansa, adalah persembahan terbaik: cinta yang tulus dan penuh sebagai akhir persembahan bagi mulut-mulut lapar.

Ya, Chef dengan segenap cintaku kusadari membuat pasta yang lezat adalah bukti cintaku pada rasa. Dulu kau mengejek dan memaki diriku berkali-kali saat percobaan demi percoban untuk menemukan rasa yang pas berakhir kegagalan. Dengan muak fettucine yang sudah susah payah kuberi bumbu, kurebus dengan kantuk yang coba kuterabas...berakhir dengan rasa yang berantakan. Aneh. Penyajian yang menarik adalah tipu. Tapi pasta bukan sekedar penyajian bukan? Ini bukan sebuah makanan ornamental yang diajajakan dalam sebuah etalase kaca bersinar. Kubuang tumpukan fettucine kenyal berminyak dalam bak cuci piring setelah gagal memadukan rasa. Terkadang terlalu lembek dan kering. Tapi, memaki dan menyesali proses adalah sebuah ketololan paling nyata. Untung keyakinan bahw aku bisa membuat pasta yang lezat seperti buatanmu telah membentuk tekad dan nyala api yang membuat aku tak kan menyerah terus mencoba dan bereksperimen. Hingga akhirnya...

“Segala hal yang kau kerjakan tak hanya membuat pasta, harus berlandaskan rasa cinta untuk mengerjakannya...karena cinta naluri tulus, persembahan paling agung yang bisa dipersembahkan untuk membahagiakan orang lain. Dan pasta dipersembahkan untuk membahagikan para tamu dan pelanggan yang telah hadir. Sementara cinta dipersembahkan untuk orang-orang terkasih...orangtua, saudara, kerabat, lingkungan sosial dan tentu: kekasih.”

“Apa penghargaan terbaik bagi para pembuat pasta, Chef?”

“Saat tamu tak menyisakan sedikit pun sisa di dalam piring yang menyajikan pasta buatanmu.”

“Dan bagaimana rasa pasta sejati sesungguhnya Chef?”

“Bila kau tahu apa itu rasa cinta. Itulah Pasta.”

*

Saat cinta itu pertama kali datang. Ia sebuah bahan mentah. Hati dan perasaan yang haus adalah sebuah dapur yang mengolah bahan rasa itu menjadi sebuah rasa yag menyajikan berjuta ilusi dan sensasi surgawi masa remaja.

“Yang kupikir saat bahan dasar itu datang dan dapur ilusiku mengolahnya secara samar ia seperti seorang putri paling cantik di atas dunia. Kecantikannya sekan aroma bumbu yang tajam. Dalam hatiku berdenyut mencoba meramu cara agar bahan dasar itu menjadi sebuah hidangan persembhan cinta yang terbaik.”

Tahun adalah kombinasi bumbu alami. Meski cinta terkadang bertabrakan pada logika-logika dan perbedaan buatan. Cinta tanpa logika seperti pasta tanpa bumbu yang berakhir di bak cuci piring. Bahkan kau akan mencabik-cabik dalam rongga mulut sebagai sampah.

Aku harus terus mencoba mengolah rasa cinta agar menjadi sajian yang menarik bagi persembahan jiwa yang lapar. Sebab cinta sejati akan datang dan hadir dalam piring saji bernama pernikahan. Dan itulah persembahan akhir dari para pencari yang lapar. Pedas, asam seperti saus tomat, kenyal, gurih..

Hmm, seperti juga Pasta. Saat rasa itu suatu saat itu berbunyi Chef, jiwaku bergerak dan menarik kertas pesanan itu keluar, lalu dengan lantang berteriak: “Cintaaaaaaaa.”



Kemiling, Juli—Agustus 2011
Keterangan:

1. Fettucine: bahan dasar membuat pasta. Mirip mie instant namun berbentuk lebih lebar dan panjang.
Tulisan ini terinspirasi dari drama korea berjudul Pasta. Ornamen tulisan saya catat dan saya rekam dalam kepala selama menonton drama itu kemudian dikembangkan dengan sedikit googling bahan pembuat pasta. Dan tentu sisanya hanya imajinasi yang berkelebat dan tersusun dalam kepala :)

Pasta adalah drama korea ketiga yang saya tonton bercerita tentang tentang makanan. Setelah Kim Tak Goo (pembuat roti), dan Jang Geum (koki istana). Dan selalu menggoda untuk menjadikannya sebuah tulisan.

MISTERI LELAKI OPERA


JUDUL BUKU : THE PHANTOM OF THE OPERA
PENGARANG : GASTON LEROUX
PENERBIT : GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA (GPU)
TEBAL HALAMAN : 376 HALAMAN

Suspense. Satu hal yang harus ada dalam sebuah karya fiksi, yang memungkinkan pembacanya untuk tetap setia sampai akhir kisah. Novel satu ini bagi saya menawarkan begitu banyak suspense menarik yang membuat saya sebagai pembacanya terbawa arus, tak bisa mengambil jeda terlalu lama untuk berhenti sebab penasaran.

The Phantom Of The Opera, sebuah novel legendaris dalam sastra gotik dunia, telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk seni teater dan seni visual. Novel yang terbit pertama kali pada tahun 1910 ini mengambil setting di salah satu gedung opera termegah dan terindah di kota Paris.

Keganjilan, teror, ketakutan juga takhayul mengenai hantu opera yang berkeliaran di gedung opera telah berlangsung sebelum dua orang manajer pengganti itu menggantikan manajer opera yang tertekan. Terbunuhnya tukang ganti gambar, suara-suara misterius, larangan untuk mengosongkan kotak boks nomor 5 saat berlangsungnya pertunjukan opera, juga pemerasan yang dilakukan si hantu adalah bagian kecil dari keganjilan itu.. Manajer opera yang baru mulanya menganggap semua itu hanya lelucon hingga suatu saat insiden dan peristiwa mengerikan terjadi.

Christine,--salah seorang penyanyi opera suatu hari mengetahui suara indah yang membiusnya dari balik tembok ruang ganti, dimiki seorang laki-laki misterius--akhirnya terjebak pada ilusi si pemilik suara yang mencintainya. Lelaki yang mengajarinya melatih nada-nada dan lelaki yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta Christine. Laki-laki yang lambat diketahui merupakan sosok misterius di balik topeng tengkorak-- untuk menyembunyikan wajahnya yang buruk rupa dan menjijikan. Laki-laki jenius yang mahir menciptakan musik dari tempat tinggalnya di sebuah rumah di pinggir danau di bawah tanah gedung opera.

Lalu hadirlah Raoul, seorang Viscount / bangsawan yang merupakan teman masa kecil Christine yang hilang. Suatu hari ia mendengar percakapan misterius antara Christine dan si lelaki bertopeng. Hingga suatu hari Christine menceritakan padanya tentang laki-laki bernama Erick yang tinggal di bawah tanah gedung opera dan memilki akses jalan-jalan rahasia di balik tembok, cermin yang bisa terbuka, pintu jebakan dan mahir menciptakan notasi musik yang indah..

Kemudian tibalah pada suatu malam, di saat Raoul merencanakan untuk membawa lari Christine menjauh dari si lelaki misterius. Tapi terlambat...Christine tiba-tiba menghilang di atas panggung. Bersama laki-laki yang diperkenalkan sebagai si orang Persia, Raoul mencari keberadaan Christine. Si orang Persia--teman masa lalu Erick dan pernah menyelamatkan nyawa Erick di masa lalu-- menelusuri ruang bawah tanah untuk menemukan rumah di pinggir danau tempat dimana Christine berada. Maka petualangan dan kejutan yang mereka dapatkan di jalan di bawah tanah asik untuk diikuti. Pintu jebakan dan rahasia-rahasia yang terbuka. Hingga pada akhirnya mereka terdampar di ruang penyiksaan yang menakutkan.

Kisah sunyi yang menyayat hati tentang kesepian seorang jenius pencipta notasi musik, bersuara merdu, cerdik namun memiliki wajah buruk rupa yang mengharapkan sebuah pengakuan cinta.

Akhir kisah yang tak terduga, keputusan dilematis yang harus dipilih Christine: antara nasib laki-laki yang dicintai atau tragedi yang lebih besar. Lalu adakah hubungan Erick dan si hantu opera? Bagaimana nasib Raoul dan si orang Persia saat keputusan telah dipilih Christine? Bagaimana akhir si lelaki bertopeng? Lebih baik baca bukunya...dijamin mengejutkan.

*

Membaca novel ini saya merasa disuguhkan cerit a yang sebenarnya rumit namun dijelaskan dan terbayar di akhir cerita, seperti sebuah teka-teki yang pada akhirnya diberi kunci jawaban. Aroma deg-degan terasa saat memasuki bagian dimana Erick dan si orang Persia menyusuri jalan-jalan rahasia di bawah tanah gedung opera. Bahkan saya bersimpati dengan tokoh Erick, lelaki yang terbuang dari dunianya karena ia berwajah buruk namun sesungguhnya memiliki cinta yang tulus dan baik hati. Endingnya pun terasa fifty-fifty, ditulis dengan teknik pengarangnya yang menawan.

Karena terlalu banyak kejutan dan nuansa itu hanya bisa dirasakan saat kamu membaca bukunya. THE PHANTOM OF THE OPERA...


Kemiling, 5 Juli 2011

SELAMAT TIDUR, ULAR...


sepanjang tahun dalam wekerku disusupi ular menyusut
mendesir dalam gejolak tiga ratus enam puluh lima centimeter
kurawat setiap pagi, kuberi pita lidahnya menjulur dari celah
tidurku menghirup aroma nafasku yang belum sarapan
sebelum melindap mengerut dalam kantung tidur pada jam
malam kubisikkan dongeng-dongeng ibunda yang sejak kecil
kuhafal di luar kepala
ular mematut kenangan, cinta di simpang jalan, senyum dan telur-telur
waktu yang disembunyikan dalam misteri cangkang


ular melingkarkan tubuh dalam angka-angka
sesekali bertanya, kapan tiba rambutku tak lagi hitam
kurawat agar ular sehat sempurna, di luar hai manja banyak kejahatan
siap menebas tubuhnya di ladang ia mendesis dan bertelur di semak kepalaku

selamat tidur lelaki, ular menggeliat semakin pendek
tiap persinggahan tahun pesta membuat doa berkata semoga
ularku menjadi panjang
ular tertawa diantara kerdip lilin, kue coklat dan gelembung
mimpi dalam ruang karet berhampa

ularku semakin pengecut, ketika menonton televisi
tubuhnya ditandu ia bersisik kelabu dengan wangi melati
tenang ular manja setelah waktu tiba kita hilang cerita
sampai engkau terjaga ketika suara berkata:

selamat tidur ular, kata malaikat siaga di gerbong tidurku


Juli 2011

NB: untuk agustus

KUMCERKU BARENG TEMAN: DUNIA DI LUAR JENDELA...


Judul : DUNIA DI LUAR JENDELA
Penulis : OKSA PUKO YUZA dan AGUS KINDI
ISBN: 978-602-225-055-5
Terbit: Juli 2011
Tebal: 140 halaman
Harga: Rp. 33.500,00

Alhamdulillah, dua hari menjelang Ramadhan buku kumpulan cerpenku bareng salah seorang teman FLP Palembang, Oksa Puko Yuza, publish. Ini memang terbit di sebuah penerbit indie yang menerapkan sistem POD (Print On DemanD. namun kemunculan buku ini tetap membuat aku bahagia. Ada 14 cerpen di dalamnya dan dua tulisan prosais bomus dari kami. Ah, seperti kata temanku itu: BUKU INI UNTUK MEMPERERAT DUA SAHABAT YANG DIPERTEMUKAN DI DUNIA MAYA.

Allah, semoga buku ini membawa keberkahan. Amin.

Sinopsisnya :

Kumpulan cerpen berjudul DUNIA DI LUAR JENDELA ini banyak bercerita tentang kehidupan lain di luar jendela yang acapkali kita dustai keberadaannya karena terlalu sibuk dengan lakon hidup kita sendiri yang penuh dengan problema. Apakah kebahagiaan itu? Adakah yang mampu mendeskripsikan secara terang? Bukankah kebahagiaan dalam hidup bersifat subyektif belaka? Dan harapan adalah suatu perjuangan untuk menaklukan peristiwa-peristiwa yang tak selalu berjalan linear sesuai dengan coretan tangan.


Mari ikut melongok kisah-kisah dari sebuah jendela kecil yang menceritakan banyak hal sebelum jendela yang lebih tinggi terbuka lebar dan akan kau dapati tragedi kehidupan yang jauh lebih menggetarkan saat merasakannya secara langsung. eits, selain 14 cerpen, ada bonus Tarian 'Tangisan Pena'. Apa itu ? temukan jawabannya dalam buku ini. Hidup itu seperti gitar, mainkan saja (Oksa Puko Yuza) ..Satu yang pasti kita sadari: HIDUP BUKANLAH RANGKAIAN DONGENG CINTA...(Agus Kindi)

Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!!

Agus Kindi

Agus Kindi
Ketika lahir, mestinya aku jadi burung. Tapi kata ibu, sayapku belum rajawali. Ketika aku mengecup dunia, mestinya aku jadi udara. Tapi kata ayah, aku belum bisa membaca cinta...